Baiklah, karena beberapa pertanyaan seputar perjalanan kami
ke Bromo bulan Juni 2014 kemarin, terutama rute yang kami lalui serta tempat
menginap di sana, maka pada kesempatan kali ini, kami akan menuliskannya dalam
blog ini tujuannya tentu saja berbagi pengalaman dan ilmu (ilmu dolan) :D
Pertama-tama kami tekankan di sini bahwa rute yang kami
lalui adalah jalur Probolinggo-Bromo, mengingat ada beberapa jalur yang kadang
dilalui beberapa orang yaitu jalur dari Malang-Bromo dan yang lainnya yang kami kurang paham.
Pertama kami berangkat dari Terminal Tirtonadi, Solo sekitar
pukul 10 pagi, naik bus jurusan Surabaya, langsung ke Terminal Bungurasih,
Surabaya. Di luar perkiraan kami, kami baru tiba di Surabaya saat Maghrib tiba karena ternyata jalurnya
macet karena pasca hujan lebat dan banjir (kami lupa nama daerah yang banjir
tersebut, maklum jarang diekspos di televisi nih kalau yang banjir daerah
timur, coba Jakarta ya, pasti luas ter-ekspos, hehehe).
Lanjut ke cerita perjalanan, akhirnya kami lanjut naik bus
lagi sekitar pukul setengah 7 malam, langsung naik bus jurusan Probolinggo.
Nah, yang katanya cuma maksimal 2 jam dari Surabaya-Probolinggo, ternyata naik
bus butuh waktu 3 jam!! Jadilah kami sampai di terminal Probolinggo pukul setengah
10 malam. Nama terminalnya kalau tidak salah Terminal Bayu Angga (coba cek
dengan Google Map saja ya) hehehe…
Nah, di sinilah kesalahan kami (berangkat pagi bukan malam),
karena sampai di Probolinggo malam hari sehingga harus menginap di Probolinggo
semalam (untungnya ada beberapa penginapan di sekitar terminal yang lumayan
terjangkaulah harganya, hehe).
Colt ini dari terminal Probolinggo menuju Cemoro Lawang mulai
beroperasi (baca: antri) pada pukul 8 pagi serta menunggu sampai isi penuh
(atau hampir penuh sesuai kesepakatan harga dengan calo dan tentu saja sopir
colt). Biasanya disuruh bayar sampai 60 ribu per gundul tapi bisa ditawar
hingga 35-45 ribu (tergantung jumlah penumpang dan bagaimana Anda menawar harga
sih).
![]() | |
Ini bukan Bromo tapi jajaran pegunungan di sekitar Bromo :D |
Baiklah, kembali ke perjalanan, di dalam colt selama sekitar
1 jam. Standar sih jalan tanjakan dan berkelok-kelok khas naik gunung (tapi
males kalau naik kaki, hehe). View mulai agak berbeda saat
mendekati Cemoro Lawang, view-nya udah cukup menarik di kanan kirinya banyak
kembang (ecie kembang, berasa mau nyanyi dangdut, mandi kembang, tengah malaaaam, hihihi) dan sayuran (eenggg, maaf kalau ini ternyata biasa saja untuk Anda,
hehe, secara saya perempuan dan pasti suka liat sayuran dan bunga apalagi kalau
nanti punya sendiri di rumah, yippiiiie!!).
Coba ke sana deh, dijamin gak nyeseeelll. Di samping kami
saja ada bule ngobrol sama teman seperjalanannya yang baru kenal di terminal
pas ngantri colt (saat perjalanan begini, ada bagusnya juga, kok, SKSD sama
orang seperjalanan minimal biar gak bengong di perjalanan kalau sendirian,
wehehehe).
Kami bisa denger sepotong-sepotong percakapan Si Bule tadi (yang
agak beraksen Perancis berbincang dengan teman barunya (tahu aksennya bukan karena
pernah ke Perancis, sih cuma sering lihat film James Bond, mwahaha). Dari obrolannya
ketangkep, katanya Bromo adalah salah satu tempat terbaik untuk dikunjungi (gitu
sih kira-kira obrolannya). :D
Lanjut lagi ke cerita yak, sekitar pukul 12 siang, kami
sampai di Cemoro Lawang. Di sana, Anda bisa memilih mau menginap di Hotel atau
Home Stay. Kenapa harus milih turun di Cemoro Lawang? Ya, karena di situlah
banyak penginapan dan kalau mau nyewa Jeep ke Penanjakan, ke Pasir Berbisik, Ke
Padang Savanah, atau ke Kawah Bromo dan lain-lainnya, di Cemoro Lawanglah banyak berjejer-jejer
mobil sewa tersebut.
Sebenarnya ada hotel yang recomended (harga terjangkau dan
cukup bagus, lupa namanya, yang jelas letaknya paling ujung, kalau keluar ke
samping kiri hotelnya langsung lihat Gunung Batok, bisa lihat area persewaan
kuda untuk disewa ke kawah Bromo). Tapi, sayangnya sedang full-booked karena
saat ke sana pas banget ada event Jazz Gunung,jadilah pengunjungnya lebih
banyak dibanding hari-hari biasa.
![]() |
(ini nih view yang langsung terlihat di samping hotel, Gunung Batok) |
Akhirnya, kami pilih menginap di Home Stay (sekitar 200-250
ribu/malam). Murah, kan? Haahaha.. Brrrr… Siang jam 12 saja dingiiiiiin banget
tapi gak ngukur suhunya sih gak bawa thermometer, hehe. Silakan siapkan masker,
sarung tangan, penutup kepala, syal, jaket tebal berlapis kalau mau ke sana
ya..
Setelah berdiskusi sejenak berkaitan dengan suhu yang
terlalu ekstrim, kami pun memilih untuk tidak ke Penanjakan esok paginya (yang
harus berangkat jam 3 pagi) -_-?
Memang sih, agak gimanaaaa gitu, ya udah sampai ke sana tapi
gak ke Penanjakan untuk lihat Sunrise… (Aku gakpapa, kok, karena aku selalu
lihat Sunrise setiap hari di mata kamu…eeeaaa)
Haaakdesss!! Gombal mulu sih... Hihihi…
Yap, semoga kapan-kapan ada yang ngajakin liat Sunrise lain di
Sikunir, Wonosobo, Jawa Tengah (aamiin, Hore! Hore!) *lirik-lirik Suami*
Akhirnya setelah makan siang kami memutuskan untuk keluar
Home Stay, cari makan, cari oleh-oleh dan cari mobil utk di sewa.
Kami alhamdulillah dapat driver yang ramah, ngasih pula
nomor HP (semoga masih kesimpen, akibat HP rusak, kontak-kontak hilang, hehe)
serta cukup mudah ditawar, 400 ribu untuk 3 tujuan (Padang Savana, Pasir
Berbisik dan Kawah Bromo).
Saat di Padang Savanah cuaca bersahabat, jadi masih bagus
pemandangannya, plus drivernya ternyata mau jadi kameramen dadakan untuk kami
mengambil gambar kami. Hehehe. Thx you.
![]() |
(Padang Savanah yang cantiiik banget) |
Tapi saat sampai di pasir berbisik, kabutnya tebeeel, dan
agak basah udaranya, gak ada angin pula, jadilah pasirnya gak jadi berbisik,
jadinya pasir diem doang… Udah bersyukur aja, mendingan tuh daripada jadi pasir bergoyang, huhuhu…
Olrite, habis ambil-ambil foto, lanjut ke Kawah Bromo,
sekitar pukul 5 sore, akhirnya kami menyewa Kuda untuk naik ke kawah. Sewanya
dapat 100 ribu per kuda (pengennya sih berkuda berdua (eeenggg, biar kayak Arjuna
sama Drupadi ding biar romantis, tapi sayangnya kami gak bisa berkuda tanpa
pawangnya, wahaha).
Hosh Hosh, kuda gak bisa sampai ke kawah ternyata kami masih
harus menaiki anak tangga, sudah tua, naik dikit berhenti sebentar untuk atur
nafas :p
Sampai di atas lihat jam, ternyata udah hamper setangah 6
sore, pengen agak lama, tapi di atas tinggal kami berdua aja, dan suara dari
dalam kawahnya, horror, kayak kompor gas raksasa ngeluarin suara bising da gemuruh.
Jadilah kami buru-buru turun, atuuuut… hehehe…
![]() |
(ini lho, yang bersuara gemuruh) |
Yap, selesailah perjalanan kami pas saat Maghrib, kami tiba
di Home Stay. Menginap semalam saja, besok paginya bersiap turun ke
Probolinggo. Tidak perlu khawatir, karena di depan Home Stay, sudah ada colt
berjejer-jejer yang siap membawa Anda turun. Tentu saja, harap bersabar
nungguin colt penuh. Kalau gak salah ingat, biaya turun lebih murah lupa
tepatnya berapa. Kayaknya 15 ribu.
Yup, betul sekali. Colt sampai di terminal Probolinggo, dan
di terminal pun kami sudah ditunggu bus untuk kembali ke Surabaya.
Begitulah, perjalanan kami, backpacker-an. Semoga bermanfaat
dan semoga sempat untuk backpacker selanjutnya. Aamiin. Hehe.
Ohya, sampai lupa, sinyal agak susah tuh di sana kalau pakai IndoSa* dan lumayan dapat sinyal kalau pakai TelkomSe*
Ongkos bus dari Solo-Surabaya @70 ribuan.
Ongkos bus Surabaya-Probolinggo @27 ribuan.
Biaya makan, lupa sih, jadi gak usah ditulis ya.. hehe..
Oiyaaa, Special Thanks to Mas Damar Riyadi... Sudah menemaniku ke sana... Besok kalau sudah tua, bisa dibuka lagi tulisan ini, hehehe... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar